DESA KETAH KEC. SUBOH
Gambaran Umum Desa
Ketah adalah merupakan gambaran secara utuh tentang kondisi desa. Data-data
yang disusun mengambil dari semua data yang tersedia dan bisa didapatkan.
Data yang
dipakai untuk menggambarkan situasi atau keadaan dalam gambaran umum memakai
data hasil survey sekunder yang disebarkan kepada Kepala Dusun, Kepala Rukun Tetangga.
Data hasil survey akan memunculkan perbedaan dengan data yang ada di
pemerintahan desa. Data yang ada di pemerintahan desa di cek ulang dengan data hasil
survei yang merupakan data aktual dan kemudian analisa guna mendapatkan data
yang lebih akurat.
Gambaran Umum
Desa berisikan antara lain kondisi geografis, perekonomian desa, keadaan
statistik sosial budaya desa, deskripsi dan statistik sarana prasarana desa dan
deskripsi statistik pemerintahan secara umum.
2.1. Sejarah Desa Ketah
2.1.1 Asal Usul Desa
Di masa silam, daerah Situbondo merupakan daerah
penting di pantai utara bagian timur pulau Jawa. Sebab di kawasan itu terdapat
pelabuhan-pelabuhan penting seperti Panarukan, Kalbut dan Jangkar. Bahkan kota Panarukan pada abad ke-14 merupakan salah satu
pangkalan penting bagi kerajaan Majapahit. Di Panarukan sudah berdiri kerajaan
Keta (nama itu abadi sebagai desa Ketah di kecamatan Suboh, Situbondo - pen).
Untuk merebut Keta - sebagaimana dituturkan dalam Negarakretagama pupuh XLIX/3
– Majapahit melakukannya dengan kekuatan senjata.
Pada perempat akhir abad 16, menurut catatan
sejarah daerah Situbondo tepatnya di sekitar Demung dan Ketah telah dijadikan
ajang pertempuran akibat pertarungan antar kepentingan kelompok yang
bersengketa dalam upaya merebut kekuasaan Mataram dari Amangkurat I. Dalam
pertempuran itu, kekuatan Mataram yang berada di bawah perintah Amangkurat I
berhadapan dengan pejuang Makassar yang secara rahasia berada di bawah perintah
Adipati Anom, putera mahkota.
Menurut catatan Belanda dalam Daghregister 25
Januari 1674, Demung dekat Panarukan telah dijadikan benteng pertahanan oleh
pasukan Makassar di bawah pimpinan Karaeng Bonto Marannu. Sejak Oktober 1674,
orang-orang Makasar itu ditengarai telah menjadikan Demung sabagai tempat
tinggalnya.
Pangeran Adipati Anom - putera mahkota
Amangkurat I - yang mengincar kedudukan ayahandanya, rupanya telah menjalin
hubungan rahasia dengan pimpinan warga Makassar di Demung yakni Karaeng Bonto
Marannu. Dalam hubungan itu, terjalin pula sedikit hubungan antara orang-orang
Makassar dengan Madura. Ini dikarenakan, Pangeran Adipati Anom juga menjalin
hubungan rahasia dengan menantu Panembahan Rama yakni Trunojoyo dari Madura.
Tetapi hubungan kedua kelompok itu tidak menjadi akrab dan tidak berlangsung
lama pula. Itu disebabkan oleh kepentingan masing-masing terlalu banyak berbeda
(De Graaf,l987).
Dalam catatan sejarah diketahui bahwa
orang-orang Makassar di akhir 1674 dari pangkalannya di Demung telah melakukan
penyerangan ke kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa Timur. Kota pelabuhan
Gerongan yang merupakan pelabuhan beras, misalnya, dalam waktu singkat
dikuasainya. Mereka bahkan membunuh awak perahu milik warga Batavia Struys.
Anehnya, para pejabat Mataram di kawasan pantai utara tak menunjukkan reaksi
melihat daerahnya dilanda kerusuhan.
Menurut De Graaf (l987) Pangeran Adipati Anom
rupanya telah memberikan perintah agar para pejabat Jawa tidak mengambil tindakan
terhadap orang-orang Makassar yang melakukan penyerangan dan perampasan itu.
Kepatuhan para penguasa setempat -- yakni bupati-bupati di daerah Surabaya dan
Gresik -- atas perintah Pangeran Adipati Anom itu ternyata berakibat fatal.
Sebab Sunan Amangkurat I kemudian memerintahkan agar para pejabat itu dibunuh
Sejarah memang mencatat bahwa dalam proses
suksesi atas kekuasaan Amangkurat I itu, telah terjadi berbagai macam rekayasa
politik yang mengorbankan nyawa rakyat kecil yang terombang-ambing oleh ketidak-pastian angin
kekuasaan.
Para pejabat daerah setingkat
bupati dihadapkan pada pilihan untuk patuh pada dua jalur perintah yang
bertolak-belakang yakni perintah dari putera mahkota dan perintah sunan. Akibat dari manuver politik yang
makin lama makin transparan itu, Pangeran Adipati Anom pada gilirannya dituduh
mau merebut kekuasaan selagi ayahandanya masih berkuasa. Karena itu, ia dibenci
oleh Sunan yang sudah tua itu, dan adiknya Pangeran Singasari ditetapkan
sebagai pengganti ayahnya. Pangeran Puger dan Pangeran Sampang, memang telah
menyatakan dukungan terhadap Pangeran Adipati Anom sebagai pengganti ayahnya,
tetapi banyak pangeran lain yang bersumpah akan mendukung keputusan Sunan.
Kekisruhan situasi akibat proses suksesi dewasa
itu berlangsung di mana-mana. Kekacauan yang pecah di pedalaman Jawa Timur dan
sebagian Jawa Tengah, dikendalikan oleh Trunojoyo yang berpangkalan di Kediri.
Sedang kekacauan di pantai utara Jawa Timur dan sebagaian Jawa Tengah
dikendalikan oleh orang-orang Makassar di bawah Karaeng Bonto Marannu, Karaeng
Galesong, Karaeng Tallo, dan sebagainya.
Menurut Jonge (dalam De Graaf, 1987) Sunan
Amangkurat I yang marah karena merasa dikhianati putera mahkota itu mengirimkan
100 perahu perang ke Demung dengan membawa pasukan ribuan orang. Pasukan
dipimpin Raden Prawirataruna dan Rangga Sidayu. Kekuatan laut Mataram itu
kemudian bergabung dengan armada Belanda pimpinan Jan Franszen. Dan antara 17 -
24 Mei 1676 terjadi pertempuran antara pasukan Jan Franszen dengan pasukan
Makassar di Demung. Sedang pasukan Rangga Sidayu bertempur di Keta. Namun dalam
serbuan itu, pihak Mataran mengalami kehancuran dan panglima-panglima perangnya
tewas dengan cara mengenaskan.
Rekayasa yang dilakukan oleh Pangeran Adipati
Anom untuk merebut kekuasaan ayahandanya itu pada akhirnya memang berhasil
sukses. Sebab setelah terjadi kerusuhan-kerusuhan di berbagai daerah yang
akhirnya marak ke ibukota Mataram hingga Amangkurat I yang rambutnya sudah
penuh uban itu mengungsi dan kemudian mati di Wanayasa tepatnya di Tegalwangi
sebagaimana ditulis dalam Babad Tanah Jawi, maka Pangeran Adipati Anom diangkat
menjadi raja Mataram. Namun dalam catatan Valentijn (dalam De Graaf, 1987)
disebutkan bahwa untuk mempercepat matinya Sunan Amangkurat I dalam pengungsian
itu, putera mahkota yakni Pangeran Adipati Anom telah memberikan sebutir pil.
Terlepas dari keberhasilan Pangeran Adipati Anom
dalam melakukan rekayasa untuk merebut kekuasaan dari ayahnya, yang jelas
akibat dari rekayasa itu adalah kehancuran daerah di sekitar Demung dan Ketah
akibat perang dan kerusuhan. Bahkan tidak terhitung berapa jumlah korban yang
harus mati dalam rekayasa itu. Yang jelas, korban itu umumnya adalah rakyat
pedesaan dan prajurit-prajurit rendahan.
Berdasar uraian di muka, terdapat suatu petunjuk
bahwa masyarakat di kawasan ini (Desa Ketah)
adalah komunitas yarg sangat fanatik terhadap agama yang dianutnya, sekaligus
memiliki kecenderungan nativis yakni enggan menerima pengarah dari luar yang
tidak sesuai dengan budaya mereka yang heroik yang terbentuk oleh latar sejarah
mereka yang penuh diwarnai peperangan dan rekayasa politik.
2.1.2. Sejarah Pemerintahan
Desa
Pemerintahan
Desa Ketah merupakan satu pemerintahan yang ada sejak jaman kerajaan. Sesuai
dengan perkembangan keadaan dan kondisi masyarakat maka wilayah pemerintahan
terdiri atas 4 dusun, yaitu Dusun
Mandagin, Dusun janti, Dusun Ketah dan Dusun Pesisir .
Secara
administratif
pemerintahan Desa Ketah belum ada kejelasan sejak tahun berapa terbentuk. Secara Historis Pangeran Adi pernah
memimpin Pemerintahan yang merupakan utusan Raja Keraton Situbondo.
Pada saat itulah penduduk/masyarakat mulai diajak bermusyawarah mengenai tata
cara membangun serta mengubah/merubah 4 (empat) perkampungan menjadi satu desa.
Karena masih terkait sejarah maka diberi nama Desa Ketah. Pada kepemimpinannya mulai
dibuka jalan utama yang pada saat ini menjadi jalan nasional.
Berdasarkan data yang kami temukan, yang pernah menjabat Kepala Desa Ketah
adalah sbb :
1.
Periode .....s/d
1946 dijabat oleh P. ASTI (DJOGO TRUNO) ;
2.
Periode 1946 s/d 1950 dijabat oleh PINA ;
3.
Periode 1950 s/d 1960 dijabat oleh RAMLA (DJOGO MULYO) ;
4.
Periode 1960 s/d 1971 dijabat oleh SUDARMI ;
5.
Periode 1971 s/d 1990 dijabat oleh HALILUDDIN ;
6.
Periode 1990 s/d 2007 dijabat oleh H. YULIANTO ;
7.
Periode 2007 s/d 2013 dijabat oleh DIDIK SUDARMANTO ;
8.
2013 s/d sekarang dijabat oleh ERWIN SHOLEH .
2.1.3. Sejarah Pembangunan Desa
Pembangunan Sarana dan Prasana di Desa Ketah terus berkembang dari tahun ke tahun. Peningkatan jalan desa, pembangunan tangkis sungai, pembangunan lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai tingkat menengah atas, Saluran Irigasi pertanian, Draenase, Polindes, Usaha Tambak baik tradisional maupun Modern dll merupakan contoh perkembangan pembangunan di Desa Ketah
2.2. Kondisi Geografis Desa Ketah
a. Luas Wilayah : 368
Ha.
b. Batas Wilayah :
- Sebelah Utara : Selat Madura
- Sebelah Timur : Desa Buduan
- Sebelah Selatan : Desa Dawuhan dan Desa Jetis
-
Sebelah Barat : Sungai
Deluwang dan Desa Demung
c. Jumlah Tanah terdiri dari :
- Tanah sawah irigasi tekhnis : 281,6 Ha.
- Tanah sawah setengah tekhnis : -.
- Tanah Kas Desa : 40,246
Ha.
- Tanah tegal / lading : 3,000 Ha.
- Tanah Pemukiman Umum : 38,000
Ha.
- Tanah hutan rakyat : -
Ha.
- Tanah Perkantoran : 1,000
Ha.
- Tanah sekolahan : 2,000
Ha.
- Tanah Jalan : 2,000
Ha.
- Tanah industri : - Ha.
- Tanah Kuburan : 2,000
Ha.
- Tanah lain-lain : 39,000 Ha.
d.
Jumlah Dusun, RW dan RT
Jumlah
Dusun di Desa Ketah ada 4 Dusun, 11 RW
dan 32 RT yaitu
1.
Dusun Mandagin : Terbagi menjadi 3 RW dan
9 RT.
2.
Dusun Janti : Terbagi menjadi 3 RW dan
8 RT.
3.
Dusun Ketah : Terbagi menjadi 2 RW dan
6 RT.
4.
Dusun Pesisir : Terbagi menjadi 3 RW dan
9 RT.
2.3. Perekonomian Desa
Kegiatan Sosial Ekonomi masyarakat Desa Ketah yang
merupakan pendukung utama terhadap perkembangan perekonomian masyarakat dan
menjadi salah satu usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Kegiatan ekonomi yang berkembang di Desa Ketah di
pengaruhi oleh kegiatan sosial keagamaan yang sebagian besar diikuti oleh unsur
pemuda, tokoh agama, kaum perempuan dan lain-lain dan dapat
dijadikan wahana transfer pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dan
berkesinambungan, sehingga
diharapkan dapat menjadi embrio bagi kelanjutan pembangunan Desa Ketah.
Adapun sarana prasarana pendukung kegiatan ekonomi yang
ada di Desa Ketah diantaranya :
1. Koperasi Unit Desa : 1 Unit
2. Koperasi Nelayan
dan Tempat Pelelangan Ikan : 1 Unit
3.
Koperasi Wanita : 1 unit
3. Kelompok
Simpan Pinjam : 10 Kelompok
4. Usaha Tambak
Tradisional : 50 Unit
5.
Usaha tambak Modern : 3 Unit
5. Usaha
Angkutan :
16 Unit
6. Industri
Rumah Tangga/Jahit/Meubel : 6 Unit
7. Perdagangan/Toko/Kios/Warung : 68 unit
8. Kelompok
Tani :
3 Kelompok
9. Kelompok
Perikanan :
1 Kelompok
10. Usaha Jasa
Service Sepeda Motor :
3 Unit
11. Usaha Jasa
Service Elektonika :
4 Unit
2.4. Sosial Budaya
2.4.1. Demografis/Kependudukan
Berdasarkan Data sampai dengan Oktober tahun 2015,
data demografis Desa Ketah sbb ;
1.
Jumlah Penduduk
- Laki-laki : 2.143
Jiwa
- Perempuan : 2.090 Jiwa
Jumlah : 4.233 JIwa
2. Angkatan Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan
- Jumlah
angkatan kerja tidak tamat SD/Sederajat : 223
orang
- Jumlah angkatan kerja tamat
SD/Sederajat :
1.703 orang
- Jumlah angkatan kerja
tamat SLTP/Sederajat : 541 orang
- Jumlah angkatan kerja
tamat SLTA/Sederajat : 328 orang
- Jumlah angkatan kerja tamat Diploma : 36 orang
- Jumlah angkatan kerja tamat Perguruan Tinggi : 28 orang
Data Sekunder yang
dilakukan pada bulan Oktober 2015 berkaitan dengan data penduduk pada saat itu, terlihat
dalam Tabel 2.1 berikut ini :
Tabel
2.1.
Jumlah
Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Desa
Ketah Tahun 2015
|
No
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
|
1
|
Laki-laki
|
2143
|
50,62%
|
|
2
|
Perempuan
|
2090
|
49,38%
|
|
Jumlah
|
4233
|
100%
|
Sumber : Data Survey
Sekunder Desa Ketah Kecamatan Suboh,
a. Jumlah Penduduk Menurut
Golongan Usia dan Jenis Kelamin
Agar dapat mendiskripsikan lebih lengkap
tentang informasi keadaan kependudukan di Desa Ketah dilakukan identifikasi jumlah penduduk dengan
menitik beratkan pada klasifikasi usia dan jenis kelamin. Sehingga akan
diperoleh gambaran tentang kependudukan di Desa Ketah yang lebih komprehensif. Untuk memperoleh informasi
yang berkaitan dengan deskripsi tentang jumlah penduduk di Desa Ketah
berdasarkan pada usia dan dan jenis kelamin secara detail dapat dilihat tabel 2.2. berikut ini:
Tabel 2.2.
Jumlah Penduduk Berdasarkan
Struktur Usia
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Usia ( Tahun )
|
Laki-Laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
1
|
0 – 4
|
|
|
|
|
|
2
|
5 – 9
|
|
|
|
|
|
3
|
10 – 14
|
|
|
|
|
|
4
|
15 – 19
|
|
|
|
|
|
5
|
20 – 24
|
|
|
|
|
|
6
|
25 – 29
|
|
|
|
|
|
7
|
30 – 34
|
|
|
|
|
|
8
|
35 – 39
|
|
|
|
|
|
9
|
40 – 44
|
|
|
|
|
|
10
|
45 – 49
|
|
|
|
|
|
11
|
50 – 54
|
|
|
|
|
|
12
|
55 – 59
|
|
|
|
|
|
13
|
ร 60
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
2143
|
2090
|
4233
|
100,00 %
|
Sumber : Data Survey
Sekunder Desa Ketah Kecamatan Suboh, Oktober tahun 2015
Dari
total jumlah penduduk Desa Ketah, yang dapat dikategorikan kelompok rentan dari
sisi kesehatan mengingat usia, yaitu penduduk yang berusia >60 tahun merupakan jumlah penduduk yang paling banyak 10,36%.
Penduduk
usia produktif pada usia antara 20-49 tahun di Desa Ketah jumlahnya cukup signifikan, yaitu 1.092 jiwa atau 48,58% dari total jumlah penduduk. Terdiri dari
jenis kelamin laki-laki 23,71% sedangkan perempuan 24,87%.
Dari
data tersebut diketahui bahwa jumlah perempuan usia produktif lebih banyak dari
jumlah laki-laki. Dengan demikian sebenarnya perempuan usia produktif di Desa
Ketah dapat menjadi tenaga produktif yang cukup signifikan untuk mengembangkan
usaha-usaha produktif yang bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Pemberdayaan
usaha perempuan usia produktif diharapkan semakin memperkuat ekonomi
masyarakat, sementara ini masih bertumpu kepada tenaga produktif dari pihak
laki-laki.
b. Pertumbuhan Penduduk
Tingkat pertumbuhan penduduk Desa Ketah diambil
berdasarkan tingkat pertumbuhan rata-rata penduduk Kecamatan Suboh selama lima
tahun rata-rata pertumbuhannya sebesar 5 % (sumber : Kecamatan dalam angka).
2.4.2. Kondisi Kesehatan
Masyarakat
Kesehatan sebagai tolok ukur utama terhadap keberhasilan pembangunan taraf
hidup masyarakat Desa Ketah. Berdasarkan data yang ada dimana sarana prasarana kesehatan
yang dimiliki oleh Desa Ketah terdiri atas 1 unit Gedung Poskesdes dan 5 unit posyandu, 1 Lembaga Desa
Siaga dan 1 Pokja Desa Sehat. Tenaga
kesehatan yang ada yaitu 2 tenaga bidan, 2 tenaga
perawat (yang langsung di bawah koordinasi Puskesmas) ditambah unsur masyarakat
yang merupakan lulusan pendidikan bidang kesehatan (bidan dan perawat) dan dibantu oleh 25 kader kesehatan Posyandu.
Mengingat kondisi geografis dan mulai memahaminya masyarakat Desa Ketah
terhadap aspek kesehatan, terutama yang berkaitan langsung dengan fisik mereka
yang menyangkut kebersihan, dan minimnya fasilitas air bersih maka beberapa
penyakit sering terjangkit dimasyarakat dapat ditekan diantaranya : Diare,
Gatal-gatal, Muntaber, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
2.4.3. Pendidikan
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan
tingkat kesejahteraan pada umumnya dan tingkat perekonomian pada khususnya.
Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak tingkat kecakapan
yang mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan. Dan pada gilirannya
mendorong munculnya lapangan pekerjaan baru dengan sendirinya dan akan membantu
program pemerintah untuk pembukaan lapangan pekerjaan baru guna mengatasi
pengangguran. Pendidikan biasanya akan dapat mempertajam sistematika sosial dan
pola sosial individu, selain itu mudah menerima informasi yang lebih maju. Di
lihat dari Tabel 2.3. yang menunjukkan tingkat rata-rata pendidikan warga Desa
Ketah.
Tabel
2.3.
Jumlah
Penduduk Tamat Sekolah Berdasarkan Jenis Kelamin
Desa
Ketah Tahun 2015.
|
No
|
Pendidikan
|
L
|
P
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
|
1
|
Belum/Tidak Sekolah
|
|
|
|
|
|
2
|
Tidak Tamat SD
|
|
|
|
|
|
3
|
Tamat SD
|
|
|
|
|
|
4
|
Tamat SLTP
|
|
|
|
|
|
5
|
Tamat SLTA
|
|
|
|
|
|
6
|
Diploma I/II
|
|
|
|
|
|
7
|
Akademi/Diploma III
|
|
|
|
|
|
8
|
Diploma IV/Strata I
|
|
|
|
|
|
9
|
Strata II
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|
Sumber : Data survey sekunder Desa Ketah Kecamatan Suboh,
Oktober Tahun 2015
Berdasarkan data kualitatif yang diperoleh menunjukkan
bahwa di Pesisir kebanyakan penduduk hanya memiliki bekal pendidikan formal
pada level tidak tamat pendidikan dasar
36,57% dan Pendidikan Menengah SLTP dan SLTA 23,57%. Sementara yang dapat
menikmati pendidikan di Perguruan Tinggi hanya 2,40%.
Dari data di tabel, diketemukan fakta yang menarik yaitu
jumlah laki-laki terdidik prosentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan,
dalam prosentasenya laki-laki terdidik sebesar 31,81% sedangkan perempuan 30,74
%
Proporsi perempuan dapat mengenyam pendidikan berdasarkan
jenis kelamin dibandingkan dengan dengan total jumlah penduduk yang tercatat di
bulan Januari 2015 adalah sebagai berikut : Perempuan Tamat SD 19,22%; SLTP
7,03%; SLTA 3,69%;. Sementara perempuan yang dapat melanjutkan ke perguruan
tinggi lebih sedikit dibandingkan laki-laki yaitu 0,80% berbanding 1,60%.
Apabila dibandingkan dengan jumlah masing-masing jenis kelamin yang mendapatkan
pendidikan, maka yang dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi adalah
sebagai berikut : laki-laki 31,81% dan perempuan 30,74%.
Seperti yang ditampilkan dalam pembahasan sebelumnya
yaitu jumlah penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin, tercatat jumlah
perempuan usia produktif antara 20-49 tahun ada 48,58% dari jumlah total
penduduk 2.248 jiwa. Dari jumlah tersebut yang tamat SLTA dianggap usia terendah
20 tahun berjumlah 9,25%.
2.4.4. Mata Pencaharian
Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa
Ketah dapat teridentifikasi ke dalam beberapa bidang pencaharian seperti : Petani,
Buruh Tani, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Karyawan Swasta, Perdagangan, Pedagang,
Pensiunan, Transportasi, Konstruksi, Buruh Harian Lepas, Guru, Nelayan,
Wiraswasta yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan
konstribusi terhadap perkembangan perekonomian masyarakat Desa Ketah. Jumlah
penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel 2.4.
Tabel
2.4.
Jumlah
Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Desa
Ketah Tahun 2015.
|
No
|
Macam Pekerjaan
|
L
|
P
|
Jumlah
|
Prosentase (%) dari Jumlah Total Penduduk
|
|
1
|
Petani/Pekebun
|
1223
|
|
|
|
|
2
|
Buruh Tani
|
525
|
|
|
|
|
3
|
Pegawai Negeri Sipil
|
18
|
|
|
|
|
4
|
Karyawan Swasta
|
1
|
|
|
|
|
5
|
Perdagangan
|
81
|
|
|
|
|
6
|
TNI/ POLRI
|
2
|
|
|
|
|
7
|
Pensiunan
|
43
|
|
|
|
|
8
|
Transportasi
|
27
|
|
|
|
|
9
|
Konstruksi
|
52
|
|
|
|
|
10
|
Buruh Harian Lepas
|
146
|
|
|
|
|
11
|
Guru
|
89
|
|
|
|
|
12
|
Nelayan
|
1025
|
|
|
|
|
13
|
Wiraswasta
|
16
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|
Sumber : Data survey Potensi Ekonomi Desa Ketah, Oktober Tahun 2015
Berdasarkan data tersebut diatas teridentifikasi, di Desa Ketah jumlah
penduduk yang mempunyai mata pencaharian adalah 43,15%. Dari jumlah tersebut,
kehidupan penduduk yang bergantung pada sektor pertanian yaitu 27,93% dari
jumlah total penduduk.
Jumlah ini terdiri dari Petani terbanyak dengan 64,43% dari jumlah
penduduk yang mempunyai pekerjaan atau 27,80% dari jumlah total penduduk.
Selain sektor mata pencaharian yang diusahakan sendiri, penduduk Desa
Ketah ada yang bekerja sebagai aparatur pemerintahan, pegawai perusahaan swasta
yang merupakan alternatif pekerjaan selain sektor Pertanian.
2.4.5. Kesejahteraan Masyarakat
Dengan
semakin berkembangnya jumlah penduduk secara otomatis juga dituntut
terpenuhinya tingkat kesejahteraan masyarakat yang terdiri atas kesejahteraan
sosial, tenaga kerja dan pemberdayaan perempuan.
Secara
umum pelayanan dan penanganan kesejahteraan sosial masyarakat melalui
program-program bantuan secara langsung maupun dengan kegiatan program
pemberdayaan masyarakat dan perempuan telah banyak disampaikan oleh pemerintah
kepada masyarakat.
Program
bantuan langsung dari pemerintah daerah maupun pusat diantaranya Program beras
untuk keluarga miskin (Raskin), Program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH),
Jalan lain menuju kesejahteraan rakyat (Jalinkesra), Sedangkan Program bantuan
dari pemerintah daerah maupun pusat dalam bentuk kegiatan pemberdayaan
masyarakat dan perepuan diantaranya : Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan
(Gerdu Taskin), Program Pemberdayaan Program Pembangunan Prasarana dan Sarana
Desa Tertinggal (P3DT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Bantuan Rumah Tidak
Layak Huni (RTLH), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan
(PNPM-MP), Pengembangan Usaha Agrobisnis Pertanian (PUAP).
Besarnya
usia produktif yang ada di Desa Ketah
yaitu 1.092 jiwa merupakan potensi tenaga kerja yang cukup untuk dikembangkan,
dan sebagian besar usia produktif tersebut merupakan tenaga tidak terampil yang
butuh pembinaan lebih lanjut sesuai dengan bidang yang ditekuni.
Kegiatan
pemberdayaan perempuan lebih cenderung aktif dalam kegiatan perkumpulan
kelompok perempuan diantaranya Muslimat NU, Kelompok Wanita Tani (KWT) Asri,
PKK Desa, Kelompok Usaha Simpan Pinjam.
2.4.6. Agama
Dalam perspektif agama, masyarakat di Desa
Ketah termasuk dalam kategori masyarakat yang homogeny. Hal ini dikarenakan
sebagian besar masyarakat Pesisir beragama Islam. Secara cultural, pegangan
agama ini didapat dari hubungan kekeluargaan ataupun kekerabatan yang kental
diantara mereka. Selain itu perkembangan agama berkembang berdasarkan turunan
orang tua ke anak ke cucu. Hal inilah membuat Islam mendominasi agama di Desa Ketah.
Informasi yang diperoleh melalui wawancara
mendalam dari tokoh-tokoh tua, bahwa selama ini pola-pola hubungan antar
masyarakat masih banyak dipengaruhi oleh kultur organisasi Islam, Seperti
Nahdatul Ulama (NU).
Tabel 2.5.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Agama
|
L
|
P
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
|
1
|
Islam
|
2134
|
2083
|
4217
|
99,6 %
|
|
2
|
Katholik
|
9
|
7
|
16
|
0,4 %
|
|
3
|
Kristen
|
|
|
|
|
|
4
|
Hindu
|
|
|
|
|
|
5
|
Budha
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
2143
|
2090
|
4233
|
100%
|
Sumber : Data survey sekunder Desa Ketah Kecamatan Suboh,
Oktober Tahun 2015
Dari tabel 2.5. tersebut dapat dilihat bahwa jumlah penduduk Desa Ketah
sebagian besar beragama Islam.
Islam sebagai agama mayoritas mendominasi seluruh Dusun yang ada Di Desa
Ketah.
2.4.7. Pemuda dan Olah Raga
Upaya peningkatan kualitas generasi muda yang beriman dan bertaqwa,
berakhlak mulia, patriotik, demokratis dan mandiri, memiliki kepekaan dan
kepedulian sosial, mempunyai minat dan semangat kewirausahaan, berdaya saing
dan unggul dalam berprestasi, mampu mengaktulisasikan segala potensi, bakat,
dan minatnya serta terhindar dari bahaya destruktif.
Dalam usaha peningkatan kualitas generasi muda andil pemerintah desa
sangat diperlukan dalam usaha memperlancar dan mempermudah para pemuda usia
kerja tidak menjadi pengangguran sekaligus mendorong generasi muda untuk
menjadi wirausahawan baru, jika ini terjadi maka yang berkembang bukan
kecenderungan mencari lapangan kerja melainkan sebaliknya, justru akan bisa
menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Salah satu usaha menumbuhkan budaya berprestasi di bidang olahraga dan
jiwa kewirausahaan di masyarakat yaitu melalui pendidikan dimasyarakat dengan
sarana dan prasarana olah raga serta kegiatan kepemudaan yang ada.
Kegiatan pemuda
yang ada di Desa Ketah diantaranya kegiatan, Persatuan Sepak Bola Desa Ketah, Ikatan Remaja
Masjid, Palang Merah Remaja
2.4.8. Budaya dan Pariwisata
Prespektif Budaya Masyarakat di Desa Ketah sangat kental dengan budaya
Islam. Hal ini dapat dimengerti karena hampir semua desa di Kabupaten Situbondo
sangat kuat terpengaruh pusat kebudayaan Islam yang tercermin dari keberadaan
Pondok Pesantren-Pondok Pesantren yang ada di Situbondo.
Dari latar belakang budaya, kita bisa melihat aspek budaya dan sosial
yang terpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Didalam hubungannya dengan agama
yang dianut misalnya Islam sebagai agama mayoritas dianut masyarakat, dalam
menjalankannya sangat kental dengan tradisi budaya Islam.
Perspektif budaya masyarakat di Desa Ketah masih sangat kental dengan
budaya ketimurannya. Dari latar belakang budaya, kita bisa melihat aspek budaya
dan sosial yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Didalam hubungannya
dengan agama yang dianut misalnya, Agama Islam sebagai agama mayoritas dianut
masyarakat, dalam menjalankan sangat kental dengan tradisi budaya ketimuran.
Tradisi budaya ketimuran sendiri berkembang dan banyak dipengaruhi
ritual-ritual agama atau kepercayaan masyarakat sebelum Agama Islam masuk. Hal
ini menjelaskan mengapa peringatan-peringatan keagamaan yang ada dimasyarakat,
terutama Agama Islam dipeluk mayoritas masyarakat, dalam menjalankannya muncul
kesan nuansa tradisinya. Contoh yang bisa kita lihat adalah peringatan tahun
baru Hijriyah dengan melakukan do,a bersama dimasjid dan mushalla-mushalla.
Contoh yang lain adalah ketika menjelang Ramadlan masyarakat
berbondong-bondong mendatangi kuburan/makam orang tuanya maupun kerabat dan
para leluhurnya untuk dibersihkan dan setelah itu melakukan tahlilan bersama dimasjid
dan mushalla kemudian makan bersama saat itu juga. Contoh yang lain lagi ketika
peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diperingati di masjid-masjid dan
mushalla dan ada juga yang diperingati dirumah warga yang kehidupannya sudah
diatas cukup. Biasanya pada peringatan ini masyarakat menyediakan berbagai
macam hidangan yang berupa buah-buahan dan makanan serta membuat nasi tumpeng dll.
Acara Petik Laut yang merupakan kegiatan mengungkapkan rasa syukur
terhadap rejeki yang telah diperoleh juga dikemas dalam bentuk kegiatan Religi
dan dipadukan dengan kebudayaan tradisional yang ada di tengah-tengah
masyarakat.
Secara individual didalam keluarga masyarakat Desa Ketah, tradisi
ketimuran dipadu dengan Agama Islam juga masih tetap dipegang. Tradisi ini
dilakukan selain sebagai kepercayaan yang masih diyakini sekaligus digunakan
sebagai media untuk bersosialisasi dan berinteraksi di masyarakat. Misalkan,
tradisi mengirim do’a untuk orang tua atau leluhur yang dilakukan dengan
mengundang para tetangga dan kenalan yang istilah populernya diberi nama KOULEMAN
/ KONDANGAN. Kolonan ini biasanya dilakukan mulai dari satu sampai tujuh
harinya keluarga yang ditinggal mati, yang disebut TAHLILAN. Selanjutnya
hari ke empat puluh/pa’pholo, hari ke seratus/nyatos dan seribu harinya/nyebuh
perhitungan tanggal kegiatan menggunakan penanggalan jawa.
Bersyukur kepada Allah SWT, karena dikaruniai anak pertama pada tradisi
masyarakat Desa Ketah juga masih berjalan disebut PELET BETTENG ketika
kandungan ibu menginjak usia 7 bulan dimana suami istri keluar secara bersamaan
kehalaman rumah untuk dimandikan kembang dengan memakai cewok dari batok kelapa
dan pegangannya memakai pohon beringin kemudian setelah selesai cewok tersebut
dilempar keatas genting oleh mbah dukunnya, jika posisi cewok tersebut
terlentang maka ada kemungkinan anaknya perempuan, tetapi jika posisinya
sebaliknya maka diyakini kalau anaknya akan lahir laki-laki.
Tetapi yang harus diwaspadai adalah muncul dan berkembangnya pemahaman
keyakinan terhadap agama ataupun kepercayaan tidak berakar dari pemahaman
terhadap tradisi dan budaya masyarakat yang sudah ada. Hal ini mulai
mengakibatkan munculnya kerenggangan sosial dimasyarakat dan gesekan antara
masyarakat. Meskipun begitu sudah ada upaya untuk mengurangi gesekan yang ada
di masyarakat dengan cara persuasif.
Aspek pemberdayaan masyarakat (Community Empowering) masyarakat local
merupakan prioritas dalam pengembangan sosial budaya yang ada di masyarakat.
Proses pemberdayaan masyarakat yang utama adalah mengembangkan dan
mempertahankan setiap partisipatif masyarakat dalam proses pembangunan.
Pengembangan pariwisata di wilayah Desa Ketah masih belum memanfaatkan
potensi sumber daya alam setempat. Sedangkan potensi yang ada dan berpeluang
dikemangkan sebagai obyek wisata adalah wisata alam pesisir dan hutan
konservasi/hutam bakau.
2.4.9. Dinamika Politik
Seiring dengan perubahan dinamika politik dan
sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada
masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih
demokratis. Dalam dinamika politik, memang mengalami perkembangan yang cukup
signifikan. Jabatan Kepala Desa sejak lama ditentukan dengan cara dipilih
secara langsung oleh masyarakat Desa Ketah. Biasanya bagi para calon Kepala
Desa yang akan ikut pemilihan adalah orang yang punya kaitan dengan elit lama
desa tersebut, missal anak kepala desa terdahulu atau turunan dan keluarga. Hal
ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat banyak desa-desa bahwa jabatan
Kepala Desa adalah jabatan garis tangan keluarga-keluarga tersebut. Ini yang
biasa disebut Pulung –dalam khasanah Jawa bagi keluarga-keluarga tersebut.
Kepala Desa merupakan suatu jabatan yang tidak
serta merta dapat diwariskan kepada putra seorang kepala Desa. Kepala Desa
dipilih berdasarkan etos kerja, kejujuran
serta kedekatan dengan warga sekitar. Seorang Kepala Desa bisa diganti
sebelum masa jabatannya habis, jika seorang kepala desa melakukan hal-hal yang
melanggar peraturan maupun norma-norma yang berlaku. Kepala Desa juga bisa
diganti jika berhalangan tetap.
Saat ini, siapa saja yang merasa mampu
meskipun dari latar belakang apapun asal berani mencalonkan diri, bisa menjadi
calon kepala desa, tentu dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan dalam
perundang-undangan yang berlaku. Pilihan jabatan Kepala Desa terakhir yang
dilaksanakan pada bulan Desember 2009. Pada pilihan kepala desa saat itu
tingkat partisipasi masyarakat yang sangat tinggi . Tercatat jumlah hak pilih
sebanyak 1.516 pemilih, dari jumlah itu sebanyak 1.350 orang menggunakan hak
pilihnya dengan dua calon kepala desa yang mengikuti pemilihan tersebut.
Pilihan kepala desa bagi masyarakat Desa Ketah bagaikan acara perayaan desa.
Pada tahun yang sama di bulan Juni, warga
masyarakat Desa Ketah juga terlibat dalam mengikuti pemilihan Kepala Daerah Provinsi.
Paska semua kegiatan pemilihan situasi kembali
berjalan normal, masyarakat tidak terus-menerus tersekat-sekat dalam
kelompok-kelompok pilihannya. Hal ini terbukti kehidupan tolong menolong maupun
gotong royong maupun gotong royong tetap berjalan dengan baik.
Pola kepemimpinan di Desa Ketah dalam pengambilan
keputusan berada di tangan Kepala Desa. Namun semua dilakukan dengan mekanisme
yang melibatkan pertimbangan dari masyarakat. Keterwakilan masyarakat ditingkat
desa, diwadahi oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai lembaga di tingkat
desa. Untuk menjadi anggotanya harus melalui mekanisme pilihan langsung. BPD
berfungsi sebagai Badan Perwakilan warga masyarakat desa yang bertugas mirip
dengan legislatif. Kebijakan-kebijakan pemerintahan desa harus mendaptkan
persetujuan dari BPD. Dengan demikian terlihat bahwa pola kepemimpinan di
wilayah Desa Ketah mengedepankan pola kepemimpinan yang demokratis.
Didalam dinamika politik nasional masyarakat Desa
Ketah cukup antusias dalam menggunakan hak pilihnya. Masyarakat menggunakan hak pilihnya sesuai dengan
pilihan hatinya tanpa ada paksaan. Hal ini bisa dilihat dalam distribusi suara
pemilih, hamper semua partai peserta pemilu mendapatkan suara.
Berdasarkan diskripsi dari beberapa
fakta-fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa Desa Ketah mempunyai dinamika
politik lokal yang bagus. Hal ini terlihat dengan baik dari segi pola
kepemimpinan, mekanisme pemilihan kepemimpinan, sampai dengan partisipasi
masyarakat dalam menerapkan system politik demokratis ke dalam kehidupan
politik local. Tetapi minat terhadap politik nasional terlihat kurang antusias.
Hal ini dapat dimengerti dikarenakan dinamika politik nasional dalam kehidupan
keseharian masyarakat Pesisir kurang mempunyai greget, terutama yang berkaitan
dengan permasalahan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara langsung.
2.5. Sarana dan Prasarana Desa
2.5.1. Sosial Ekonomi
Ekonomi merupakan bagian yang sangat berpengaruh bagi
pertumbuhan suatu wilayah oleh karena itu di setiap sumber daya alam yang
potensial dan dikategorikan sebagai unggulan perlu dikembangkan lebih lanjut
dalam sentra-sentra produksi. Adapun unggulan yang potensial dapat dikembangkan
di Desa Ketah dan menjadi modal dasar pertumbuhan wilayah adalah : pertanian, perdagangan,
peternakan, perikanan laut dan tambak.
Ketersediaan fasilitas-fasilitas sosial ekonomi dalam
rangka meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Ketah dapat dilihat dalam
tabel. 2.6.
Tabel 2.6.
Jumlah Fasilitas Sosial Ekonomi
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Fasilitas
|
Sarana
|
Jumlah
|
|
01
|
Lembaga Keuangan Mikro
|
Kopwan
|
1
|
Buah
|
|
|
|
Koperasi
|
2
|
Buah
|
|
02
|
Tempat Pelelangan Ikan
|
Bangunan Semi Permanen
|
1
|
Lokal
|
|
03
|
Usaha Jasa
|
Service Sepeda Motor
|
3
|
Lokal
|
|
|
|
Service Elektronika
|
4
|
Lokal
|
|
|
|
Counter Hp/Pulsa
|
10
|
Lokal
|
|
|
|
Meubel
|
3
|
Lokal
|
|
|
|
Jahit/bordir
|
3
|
Unit
|
|
|
|
Cuci Mobil
|
1
|
Lokal
|
|
04
|
Perikanan
|
Tambak Udang Modern
|
3
|
Lokal
|
|
|
|
Tambak Tradisional
|
30
|
Lokal
|
Sumber
: Data survey sekunder Desa Ketah Kecamatan Suboh, Oktober Tahun 2015
2.5.2. Sosial Budaya
Penyediaan fasilitas-fasilitas
dalam rangka meningkatkan, peran, fungsi tatanan kehidupan masyarakat Desa
Ketah diantaranya:
Tabel 2.7.
Jumlah Fasilitas Sosial
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Fasilitas
|
Sarana
|
Jumlah
|
|
01
|
Keagamaan
|
Masjid
|
5
|
Buah
|
|
|
|
Mushalla
|
42
|
Buah
|
|
|
|
Pemakaman
|
7
|
Lokal
|
|
02
|
Pendidikan
|
Paud
|
4
|
Lokal
|
|
|
|
TK
|
2
|
Lokal
|
|
|
|
SD
|
3
|
Lokal
|
|
|
|
SMP
|
1
|
Lokal
|
|
|
|
MA
|
1
|
Lokal
|
|
|
|
Pondok Pesantren
|
1
|
Lokal
|
|
|
|
Lapangan Sepak Bola
|
1
|
Unit
|
|
03
|
Kesehatan
|
Poskesdes
|
1
|
Unit
|
|
|
|
Posyandu
|
5
|
Unit
|
|
04
|
Kelembagaan
|
Balai Desa
|
1
|
Unit
|
Sumber : Data survey
sekunder Desa Ketah Kecamatan Suboh, Oktober Tahun 2015
2.5.3. Transportasi dan
Perhubungan
Transportasi merupakan salah satu unsur yang menentukan laju pertumbuhan
ekonomi dan sosial pada suatu desa serta dapat mempengaruhi mobilitas informasi
dan penduduk dari suatu desa ke desa lain.
Pada tahun 2015 total panjang jalan di Desa Ketah adalah 12,50 Km
yang merupakan jalan desa yang menghubungkan antara dusun yang satu dengan
dusun yang lain. Sedangkan fungsi jalan yang ada dengan tingkatan arteri
primer, lokal sekunder, serta jalan lingkungan. Jalan-jalan tersebut dengan
fungsi hubung sebagai berikut :
a. Jalan Arteri Primer yaitu
jalan utama yang menghubungkan antara Desa Ketah (Kecamatan Suboh) dengan
wilayah Kabupaten Situbondo, Probolinggo , dan Bondowoso.
b. Jalan Lokal Primer yaitu
jalan yang menghubungkan antara Desa Ketah dengan Desa-desa di Kecamatan Suboh dan
Kecamatan Besuki.
c. Jalan Lingkungan yaitu
jalan yang menghubungkan antara perumahan penduduk di dalam satu kawasan
pemukiman.
Tabel 2.8.
Sarana dan Prasarana Jalan
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Jenis Jalan
|
Panjang
|
Satuan
|
|
1
|
Jalan Negara Hotmix
(Jalan Arteri)
|
2,000
|
Km
|
|
2
|
Jalan Hotmix
|
3,500
|
Km
|
|
3
|
Jalan Aspal
|
1,500
|
Km
|
|
4
|
Jalan Makadam
|
0,500
|
Km
|
|
5
|
Jalan Setapak
|
2,500
|
Km
|
|
6
|
Jalan Kampung (Paving)/ Rabat
|
2,500
|
Km
|
|
Jumlah
|
12,500
|
Km
|
Sumber : Data survey sekunder Desa Ketah Kecamatan Suboh,
Oktober Tahun 2015
2.5.4. Telekomunikasi dan
Informasi
Masyarakat
Desa Ketah sebagian besar untuk kebutuhan telekomunikasi pada saat ini
menggunakan Jaringan Telepon Seluler dimana jaringannya sudah merata dan
menjangkau kalangan masyarakat paling bawah. Desa Ketah juga merupakan salah satu
desa yang mendapatkan program desa berdering
2.5.5. Pengairan
Untuk mengoptimalkan lahan-lahan pertanian dan penataan irigasi
sekaligus untuk mendukung peningkatan produksi pertanian maka sarana prasarana
pengairan yang ada di Desa Ketah diantaranya :
Tabel 2.9.
Sarana dan Prasarana Pengairan
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Sarana dan Prasarana
|
Jumlah
|
|
1
|
Sungai Tadah Hujan
|
1
|
Buah
|
|
2
|
Sumur Pompa
|
11
|
Buah
|
|
3
|
Mesin Pompa
|
11
|
Buah
|
|
4
|
Jaringan Perpipaan/saluran primer
|
2000
|
Meter
|
|
5
|
Pintu pembagi
|
3
|
Unit
|
|
6
|
Sumur Pantek
|
30
|
unit
|
Sumber
: Data survey sekunder Desa Ketah, Oktober Tahun 2015
2.5.6. Drainase dan limbah
Dengan semakin pesatnya perkembangan fisik Desa Ketah maka diperlukan
system drainase yang memadai untuk menyalurkan air buangan/limbah keluarga dan
air limpahan air hujan ke saluran pembuangan induk. Penyediaan jaringan
drainase di Desa Ketah belum memadai dimana sebagian jalan utama masih belum
memiliki saluran drainase atau fungsi saluran yang belum sesuai. Drainase dibedakan menurut kondisinya yaitu
drainase permanen, semi permanen dan tidak permanen. Drainase di Desa Ketah
termasuk kurang baik, yang langsung dibuang ke aliran sungai yang langsung
bermuara ke laut.
Penanganan air limbah yang berasal dari rumah tangga masih belum
menggunakan saluran pematusan dan cenderung dibiarkan begitu saja oleh rumah
tangga.
2.5.7. Air Bersih
Untuk kebutuhan air bersih, penduduk Desa Ketah menggunakan air sumur. Untuk pengguna sumber air
bersih dapat dilihat pada Tabel 2.9.
Tabel 2.10.
Sarana dan Prasarana Air Bersih
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Dusun
|
Pompa
|
Sumur
|
|
1
|
Mandagin
|
|
|
|
2
|
Janti
|
|
|
|
3
|
Ketah
|
|
|
|
4
|
Pesisir
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
Sumber
: Data survey sekunder Desa Ketah, Oktober Tahun 2015
2.5.8. Energi
Secara keseluruhan mayoritas penduduk Pesisir menggunakan jaringan
listrik dari jasa PLN untuk memenuhi sebagaian kebutuhan energi. Untuk mendukung
kebutuhan energi rumah tangga juga menggunakan beberapa alternatif energi
diantaranya: minyak tanah, kayu dan gas
LPG.
2.6. Pemerintahan Umum
Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW)/Dusun sebagai
bagian dari satuan wilayah pemerintahan Desa Ketah memiliki fungsi yang sangat
berarti terhadap pelayanan kepentingan masyarakat wilayah tersebut. Terutama
berkaitan hubungannya dengan pemerintahan pada level diatasnya. Pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat meliputi semua kegiatan pelayanan yang menyangkut
semua kepentingan kebutuhan masyarakat.
2.6.1. Struktur Kepemimpinan dan
Pelayanan Publik
Struktur Kepemimpinan Desa Ketah tidak dapat lepas dari
struktur administratif pemerintahan pada level diatasnya. Hal ini dapat dilihat
dalam bagan dibawah ini:
Sumber : Monografi Desa
Ketah Kecamatan Suboh Tahun 2015
Tabel 2.11.
Nama Perangkat Pemerintah
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Nama
|
Jabatan
|
|
1
|
ERWIN SHOLEH
|
Kepala Desa Ketah
|
|
2
|
MUARJA
|
Sekretaris Desa
|
|
3
|
SRI RUKMINI
|
Kaur Umum
|
|
4
|
ABDUL BASIT
|
Kaur Kesra
|
|
5
|
ARNOLD CHICCO W
|
Kaur Pembangunan
|
|
6
|
HARTININGSIH
|
Kaur Keuangan
|
|
7
|
ABD RAHMAN SALEH
|
Modin
|
|
8
|
H. ABDUL MUKTI
|
Ulu-ulu air
|
|
9
|
SUHAIDA
|
Kampung Mandagin
|
|
10
|
SUYOTO
|
Kampung Janti
|
|
11
|
RUBIANTO
|
Kampung Ketah
|
|
12
|
JADI
|
Kampung Pesisir
|
Sumber : Monografi Desa
Ketah Kecamatan Suboh Tahun 2015
Tabel 2.12.
Nama Pengurus Badan
Permusyawaratan
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Nama
|
Jabatan
|
|
1
|
NURUL HUDA
|
Ketua
|
|
2
|
SIRAJUDDIN
|
Wakil Ketua
|
|
3
|
HASYIM
|
Sekretaris
|
|
4
|
AHMAD RIFA`I
|
Anggota
|
|
5
|
ARYONO
|
Anggota
|
|
6
|
SUNAN
|
Anggota
|
|
7
|
FATHORRAHMAN
|
Anggota
|
|
8
|
CUNG ADIYONO
|
Anggota
|
|
9
|
EDIYANTO
|
Anggota
|
|
10
|
RUDI
|
Anggota
|
|
11
|
MAHFUD
|
Anggota
|
Sumber : Monografi Desa
Ketah Kecamatan Suboh Tahun 2015
Tabel 2.13
Nama-nama Dusun dan Kepala
Dusun
Desa Ketah Tahun 2015
|
No
|
Nama
|
Jabatan
|
|
1
|
SUHAIDA
|
Kepala Dusun Mandagin
|
|
2
|
SUYOTO
|
Kepala Dusun Janti
|
|
3
|
RUBIANTO
|
Kepala Dusun Ketah
|
|
4
|
JADI
|
Kepala Dusun Pesisir
|
Sumber : Monografi Desa
Ketah Kecamatan Suboh Tahun 2015
Secara umum pelayanan pemerintah Desa Ketah kepada masyarakat cukup
memuaskan. Dalam beberapa sesi wawancara langsung dengan masyarakat Desa Ketah
yang dipilih secara acak hal ini terungkap bahwa dalam memberikan pelayan
pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) dan surat pindah pergi penduduk antar
kabupaten belum begitu maksimal karena masih tergantung pada pelayanan satu
atap di kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Situbondo. Begitu pula
untuk pengurusan surat-surat penting lainnya seperti akte kelahiran dan akte
kematian, sehingga secara umum masyarakat terlayani secara baik.
2.6.2. Ketentraman dan Ketertiban
Kesiapan masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga keamanan dan
ketertiban dalam sistem pamswakarsa merupakan langkah preventif dan tindakan
cepat dalam mengatasi berbagai kondisi rawan untuk mencegah dan memperkecil
gangguan serta ancaman terhadap keamanan.